Brachial Plexus Injury – Penatalaksanaan Fisioterapi

Bagikan

Bagikan

brachial plexus injury

Penatalaksanaan Fisioterapi pada Brachial Plexus Injury

Definisi

Brachial Plexus Injury adalah suatu kondisi cedera pada pleksus brachialis yang disebabkan oleh adanya trauma yang tinggi (kompresi atau tarikan) pada area leher dan ekstremitas atas yang akan menyebabkan paralisis pada ekstremitas atas.(1) Brachial plexus injury akan menyebabkan kehilangan kemampuan dan fungsi yang signifikan dari ekstremitas atas untuk melakukan aktivitas sehari-hari.(2)

Angka kejadian brachial plexus injury berbeda-beda disetiap negara. Berdasarkan United State Office of Rare Disease, insiden cedera saraf perifer terjadi sebanyak 200.000 kasus/tahun(1) dan umumnya terjadi pada laki-laki usia 15-20 tahun.(1,3) Berdasarkan sebuah studi di Inggris tahun 2012, kasus cedera supraclavicular tertutup terjadi sebanyak 400-500 kasus tiap tahunnya.(1) Sebanyak 70% dari kasus brachial plexus injury terjadi akibat dari kecelakaan, dimana 70% dari total merupakan kecelakaan motor atau sepeda.(3)

Pleksus brachialis merupakan jaringan saraf yang berasal dari saraf spinal dan menginervasi ekstremitas atas. Pleksus brachialis tersiri atas 5 akar saraf, yaitu C5, C6, C7, C8, dan T1. Akar saraf C5 dan C6 bergabung dan membentuk upper trunk, akar saraf C7 akan membentuk middle trunk dan akar saraf C8 dan T1 bergabung membentuk lower trunk. Nervus supraclavicular merupakan cabang saraf penting yang berasal dari upper trunk. Semua trunk akan melewati clavicula dan membentuk divisi anterior dan posterior. Divisi anterior dari ketiga trunk membentuk fasikel posterior. Divisi anterior dari upper trunk dan lower trunk akan membentuk fasikel lateral. Dan divisi anterior dari lower trunk akan membentuk fasikel medial.(1)

Klasifikasi

Brachial plexus injury bisa diklasifikasikan dalam banyak cara, seperti :(2)

a. Berdasarkan bagian yang terkena

  • Akar saraf
  • Cord
  • Trunk
  • Nerve level injury
  • Gabungan dari semuanya

b. Berdasarkan akar saraf

  • Upper plexus (C5, C6, C7)
  • Lower plexus (C8, T1)
  • Global (C5-T1)

c. Hubungan dengan Clavicula

  • Supraclavicular
  • Retroclavicular
  • Infraclavicular

Untuk klasifikasi cedera saraf, Seddon membaginya kedalam 3 tipe berdasarkan pada tingkat keparahan, cedera, prognosis, dan lama waktu penyembuhan, yaitu neuropraxia, axonotmesis dan neurotmesis. Neuropraxia adalah tipe yang paling ringan dan digambarkan sebagai hambatan hantaran propragasi impuls saraf tanpa adanya disrupsi pada akson dan neuron saraf. Axonotmesis adalah hilangnya kontinuitas aksonal tanpa gangguan terkait elemen jaringan ikat fasikular. Neurotmesis merupakan tipe yang paling parah dengan gangguan seluruh saraf dan gangguan parah pada komponen jaringan ikat saraf dengan gangguan pemulihan sensorik dan motorik.(1)

Sunderland mengklasifikasikan cedera saraf berdasarkan pada kerusakan pada jaringan saraf dan keparahan kerusakannya. Derajat 1 sama dengan neuropraxia pada klasifikasi Seddon’s, derajat 2, 3 dan 4 sama dengan axonotmesis pada kalsifikasi Seddon’s dengan perbedaan kerusakan pada mesenkimal jaringan saraf, dan derajat 5 sama dengan neurotmesis pada klasifikasi Seddon’s.(1) Chuang telah membuat metode klasifikasi untuk brachial plexus injury dengan berbagai macam derajat cedera yang dibagi kedalam 4 level.(1)

Patofisiologi Brachial Plexus Injury

Penyebab utama dari brachial plexus injury adalah :(2)

  • Kecelakaan lalu lintas (seringkali kendaraan roda dua)
  • Trauma industri
  • Terjatuh dengan peregangan pada leher
  • Tergores benda tajam
  • Luka tembak
  • Luka iatrogenic

Kecelakaan bermotor dikatakan sebagai trauma benturan berenergi tinggi dan dapat merusak pleksus brakialis jika terjadi pada ekstremitas atas dan daerah leher. Cedera pleksus brakialis dikaitkan dengan gesekan yang menarik lengan atas dan bahu dari tubuh atau leher. Gerakan tiba-tiba dapat menyebabkan gesekan pada clavicula dan akan mempengaruhi pleksus brachialis dan struktur vasa subclavian. Dalam kecelakaan bermotor, kepala dan leher korban berbenturan dengan tanah dengan tangan dan kepala tertarik ke arah yang berbeda. Cedera ini menyebabkan hiperabduksi bahu dan pelebaran sudut humerus skapula yang mempengaruhi akar saraf C8 dan T1. Untuk mencegah traksi berkecepatan tinggi, terjadilah avulsi C5, C6, C7, C8, dan T1. Mekanisme ini terutama mengacu pada lesi avulsi akar saraf, terjadi pada 70-80% kecelakaan sepeda motor.(1)

Cedera pleksus brakialis yang terjadi pada bayi baru lahir akibat persalinan sebagian besar merupakan cedera traksi. Seperti pada distosia bahu, tarikan pada leher bayi menyebabkan sudut antara bahu dan leher meningkat. Cedera pleksus brakialis dapat terjadi sebagai akibat dari kekuatan/gaya yang diberikan oleh dokter persalinan dalam upaya untuk mengatasi distosia bahu. Banyak laporan cedera pleksus brakialis sementara atau persisten,termasuk avulsi akar saraf yang terjadi baik pada persalinan pervaginam tanpa distosia bahu maupun operasi caesar.(1)

Tanda dan Gejala

  • Posisi bahu adduksi dan internal rotasi pada posisi pronasi.
  • Kelemahan otot pada gerakan abduksi dan external rotasi.
  • Kelemahan pada otot infraspinatus.
  • Kelemahan pada gerakan fleksi dan ekstensi siku.

Pemeriksaan Fisioterapi pada Brachial Plexus Injury

1. Inspeksi

Hal yang harus diperhatikan pada saat melakukan inspeksi pada kasus brachial plexus injury adalah adanya atropi otot dan horner sign. Horner sign mengindikasikan lesi yang terjadi terletak sangat proximal (tipe preganglion) dan membutuhkan management agresif sesegera mungkin.

2. Kekuatan otot

Penurunan kekuatan otot eksterimitas atas merupakan hal yang umum terjadi pada kasus brachial plexus injury, terutama pada otot yang diinervasi oleh akar saraf C5-T1. Pemeriksaan kekuatan otot dapat dilakukan dengan menggunakan MMT (Manual muscle testing).

3. Dermatome

Pemeriksaan dermatome dapat dilakukan untuk mengetahui letak level cedera yang dialami pasien. Evaluasi dermatome pasien mulai dari C5, C6, C7, C8 dan T1.

4. Pemeriksaan sensoris

Seringkali pada pasien brachial plexus injury mengalami gangguan sensoris jika bagian yang terluka adalah bagian proksimal dari dorsal root ganglion. Pemeriksaan sensoris dapat dilakukan dengan pemeriksaan sensibilitas, berupa evaluasi menggunakan benda tajam-tumpul, panas-dingin, kasar-halus.

Baca Juga : Penanganan pada Herniated Nucleus Pulposus (HNP)

Referensi:

  1. Sumarwoto T, Suroto H, Mahyudin F, Utomo DN, Hadinoto SA, Abdulhamid M, Utomo P, Romaniyanto R, Prijosedjati RA, Rhatomy S. Brachial Plexus Injury: Recent Diagnosis and Management. Open Access Maced J Med Sci [Internet]. 2021 Jan. 12 [cited 2022 Jul. 9];9(F):13-24. Available from: https://oamjms.eu/index.php/mjms/article/view/5578
  2. Thatte MR, Babhulkar S, Hiremath A. Brachial plexus injury in adults: Diagnosis and surgical treatment strategies. Ann Indian Acad Neurol. 2013 Jan;16(1):26-33. doi: 10.4103/0972-2327.107686. PMID: 23661959; PMCID: PMC3644778.
  3. Luo TD, Levy ML, Li Z. Brachial Plexus Injuries. [Updated 2022 May 10]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482305/

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Fisioterapi Terbaru

Play Video