HaloFisioterapi

CTEV : Kenali Deformitas Pada Kaki Bayi

CTEV

CTEV atau congenital talipes equinovarus merupakan suatu kelainan bawaan yang ditandai dengan kelainan bentuk pada tungkai. Kelainan bentuk tersebut berupa cavus, adduct, varus dan equinus. Deformitas ini dapat terjadi pada salah satu atau kedua kaki.

CTEV merupakan bentuk deformitas yang paling umum pada bidang muskuloskeletal. Di Indonesia sendiri, kejadian CTEV berkisar antara 0,76 hingga 3,49 kasus per 1000 kelahiran bayi. Di Eropa, CTEV terjadi 2 kali lebih banyak pada laki-laki jika dibandingkan dengan perempuan. Riwayat keluarga dengan CTEV akan meningkatkan risiko terjadinya CTEV.

CTEV
Sumber: Netmeds.com

Etiologi CTEV

Penyebab CTEV belum diketahui secara pasti, namun CTEV bukanlah disebabkan oleh malformasi embrio, karena CTEV terjadi pada trimester kedua kehamilan. Beberapa teori telah diajukan mengenai beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya CTEV, seperti kelainan pembentukan sendi atau tulang, pembatasan uterus, perkembangan neurologis, pembuluh darah ekstremitas distal, jaringan ikat, dan hambatan perkembangan.

Jenis-jenis CTEV

Beberapa kelainan yang terjadi pada pasien dengan CTEV adalah

  1. Malposisi tulang tarsal
  2. Atrofi pada otot betis
  3. Pemendekan kaki

Malposisi pada tulang tarsal akan memberikan dampak pada bentuk sendi tarsal. Kaki depan berada pada posisi pronasi dan lengkungan plantar akan lebih melengkung. Hal ini akan meningkatkan fleksi dari tulang metatarsal pada sisi lateral-medial.

Kelompok otot gastroc, soleus, tibialis anterior, tibialis posterior, dan fleksor digitorum longus sepertinya memberikan tarikan yang berlebihan. Otot-otot pada kaki yang mengalami CTEV juga lebih kecil jika dibandingkan dengan kaki sehat. Pada ujung distal otot gastroc, nampak lebih banyak jaringan ikat kolagen dan biasanya meluas hingga ke tendon achilles.

Ligamen pada sisi medial dan posterior sendi tarsal serta sendi pergelangan kaki sangat tebal dan kaku. Hal ini menyebabkan kaki tetap dalam posisi equinus dengan kalkaneus dalam posisi inversi dan tulang navicular dalam posisi adduksi.

Pada pemeriksaan mikroskopis, bayi baru lahir dengan CTEV ligamennya memiliki serat dan sel kolagen yang lebih banyak jika dibandingkan dengan bayi normal. Simpul serat kolagen memiliki pola berkerut (bergelombang). Pola ini memungkinkan ligamen untuk meregang. Peregangan hati-hati tidak akan berdampak negatif pada bayi. Kemampuan peregangan ini memungkinkan CTEV untuk dikoreksi secara manual.

Peran Fisioterapi Pada CTEV

Fisioterapi memiliki peran penting dalam manajemen CTEV. Ini termasuk:

  1. Peregangan dan Penguatan : Latihan khusus dapat membantu memperbaiki fleksibilitas dan kekuatan otot-otot yang terkena.
  2. Manipulasi Manual : Fisioterapis dapat melakukan manipulasi manual untuk membantu mengarahkan kaki ke posisi yang benar.
  3. Penyesuaian Alat Bantu :Fisioterapis dapat membantu dalam penggunaan alat bantu, seperti penyangga kaki atau penutup kaki, untuk membantu dalam perbaikan postur dan mobilitas.
  4. Edukasi dan Latihan Rumah : Memberikan instruksi kepada pasien dan keluarga tentang latihan dan perawatan rumah yang dapat membantu mempertahankan hasil terapi.

Dengan intervensi yang tepat, fisioterapi dapat membantu memperbaiki fungsi dan kualitas hidup pasien dengan CTEV.

Baca juga : Memiliki Kaki Datar/ Flat foot/ Pes Planus, Berbahaya atau Tidak?

Referensi :

  1. Mustari, M N., Faruk, M., Bausat, A., Fickry, A. Congenital talipes equinovarus: A literature review. Ann Med Surg (Lond). 2022 Sep; 81: 104394. Published online 2022 Aug 18. doi: 10.1016/j.amsu.2022.104394 https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36147065/
  2. Munjewar, S., Somaiya K J., Boob, M A., Phansopkar, P. The Effectiveness of Physical Therapy Intervention in a Seven-Year-Old Child With Congenital Talipes Equinovarus: A Case Report. Cureus. 2023 Nov; 15(11): e48423. Published online 2023 Nov 7. doi: 10.7759/cureus.48423
  3. Ezeukwu, AO., Maduagwu, SM. Physiotherapy management of an infant with Bilateral Congenital Talipes Equino varus. Afr Health Sci. 2011 Sep; 11(3): 444–448.

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *