Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)

Bagikan

Bagikan

Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)

Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)

Definisi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)

Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) merupakah salah satu metode stimulasi elektris yang secara utama digunakan untuk mengurangi gejala nyeri dengan menstimulasi sistem saraf perifer melalui mekanisme pain gate control dan atau melalui system opioid. Efektivitas TENS dalam mengurangi gejala nyeri tidak dapat dijamin, namun nyeri yang dirasakan pasien biasanya berkurang dalam >65% pada kondisi nyeri akut dan >50% pada kondisi kronis.(1)

Pengaplikasian Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) bersifat non invasive dan memiliki beberapa efek samping jika dibandingkan dengan terapi obat biasa. Efek samping yang paling sering dikeluhkan adalah terjadinya respon alergi kulit terhadap elektroda TENS. Dalam penggunaannya, elektroda akan ditempelkan di kulit pasien untuk mengalirkan arusnya ke tubuh pasien. Beberapa pasien memiliki tipe kulit yang memunculkan reaksi elergi (2-3% dari seluruh pasien) saat ditempelkan elektroda. Reaksi alergi bergantung pada bahan yang digunakan dalam elektroda.(1)

TENS secara umum menggunakan dua jenis stimulus dasar, yaitu (1) frekuensi tinggi dan intensitas rendah – TENS konvensional yang memberikan sensasi nyaman dan kesemutan yang tidak menyakitkan, dan (2) frekuensi rendah dan intensitas tinggi – TENS akupuntur yang memberikan sensasi nyeri yang bisa ditoleransi. TENS konvensional umumnya berhubungan dengan teori gate control, sedangkan TENS akupuntur  dihubungkan dengan mekanisme diffuse noxious inhibitory control (DNIC).(2)

Parameter Mesin TENS

  • Current Intensity

Intensitas merupakan kekuatan dari arus yang dikeluarkan. Kekuatan arus umumnya berada pada rentang 0 – 80 mA (beberapa alat lain hingga 100 mA). Meskipun kecil, namun arus ini sudah cukup untuk menstimulai terget utama, yaitu saraf sensorik. Modalitas akan efektif selama arus yang cukup melewati jaringan untuk mendepolarisasi saraf.   

  • Pulse Rate (Frequency)

Pulse rate merupakan jumlah pulse elektris yang akan dihantarkan. Secara normal, jumlah pulse yang dihantarkan adalah 1 atau 2 pulse per second (pps) hingga 200 – 250 pps. Agar efektif secara klinis, jumlah pulse rate yang direkomendasikan sekitar 2 – 150 Hz.

  • Pulse Width

Pulsed width merupakan durasi dari setiap pulse. Pulse width biasanya bervariasi, sekitar 40 – 250 microseconds (µs).  Untuk setting klinis, pulse width yang direkomendasikan adalah 200 µs.

  • Burst mode

Dalam burst mode, pulse akan dileuarkan secara burst atau trains, umumnya 2 – 3 burst per detik.

  • Modulation mode

Modulation mode membuat output pulse kurang teratur dan akan meminimalkan efek akomodasi yang sering dihadapi dengan jenis stimulasi.

Target pengaplikasian Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) adalah mekanisme nyeri nosiseptif. TENS dapat mengubah aktivitas simpatetis untuk mengurangi nyeri melalui aktivasi dari reseptor α2A-noradrenergiclocal, aktivasi reseptor inhibitor µ-opioid perifer, dan mengurangi rangsangan neurotransmitter dan substance P yang secara normal meningkat saat terjadi cedera.(3)

Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)

Mekanisme Aksi TENS

TENS bekerja melalui mekanisme pusat dan mengurangi sifat rangsangan sentral. TENS analgetik frekuensi tinggi dan rendah akan mengaktivasi berbagai jalur sentral, seperti medulla spinalis, medulla rostal ventromedial, periaqueductal gray, dan multipla cortical sites. Penghambat neurotransmitter sentral yang memiliki sifat analgetik meliputi reseptor µ-opioid dan serotonin (frekuensi rendah) dan reseptor delta-opioid (frekuensi tinggi) yang telah dikonfirmasi pada pasien dengan nyeri kronis. TENS juga menghasilkan analgetik melalui aktivasi dari reseptor GABA dan reseptor muscarinic (M1 dan M3) dalam medula spinalis. TENS juga mengurangi pengukuran sensasi sentral secara langsung dalam nociceptive dornal horn neurons, mengurangi pelepasan dan rangsangan neurotransmiter (glutamate dan substance P), aktivasi sel glial, dan sitokin inflamasi dan mediator di dorsal horn. Pada individu dengan fibromyalgia, TENS frekuensi tinggi mengembalikan inhibisi sentral dan meningkatkan ambang batas nyeri dan membantu pemrosesan modulasi nosiseptif sentral pada manusia. TENS juga mengaktivkan jalur inhibisi sentral dan mengurangi sensasi sentral secara simultan untuk mengurangi nyeri dan hyperalgesia.(3)

Jenis stimulasi yang dialirkan oleh TENS bertujuan untuk menstimulasi saraf sensoris dan dengan mengaktivasi mekanisme penghilang nyeri alami secara spesifik. Terdapat dua mekanisme pengurang nyeri utama yang dapat diaktivasi dengan TENS, yaitu Pain Gait Mechanism dan Endogenous Opioid System.1

Mekanisme pengurangan nyeri dengan pain gate mechanism dilakukan dengan mengaktivasi serat sensoris A beta (Aβ) dan mengurangi transmisi dari stimulus berbahaya dari serat c melalui medulla spinalis ke tingkat ynag lebih tinggi. Serat A beta (Aβ) akan terstimulasi pada frekuensi yang terdolong tinggi (90 – 130 Hz atau pps).(1)

Mekanisme lain yang dapat diaktivasi adalah system opioid endogen. System opioid endogen diaktivasi dengan cara menstimulasi serat A delta (Aδ) yang merespon pada frekuensi rendah (2 – 5 Hz). Aktivasi dari mekanisme opioid akan menghasilkan penghilang nyeri dengan melepaskan opiate endogen (encephalin) pada medulla spinalis yang akan mengurangi aktivasi dari jalur sensoris nyeri.(1)

Cara ketiga adalah dengan menstimulasi kedua tipe saraf pada saat yang bersamaan dengan menggunakan mode burst. Dalam mode burst, stimulus frekuensi tinggi (umumnya 100Hz) akan dikeluarkan dalam 2-3 burst per detik. Saat mesin dihidupkan, pulse dengan frekuensi 100 Hz akan dihantarkan dan akan mengaktivasi serat A beta dan pain gate mechanism, namun dengan adanya ‘burst’, rangsangan untuk serat A delta(Aδ)  akan dihasilkan pada setiap burst dan akan menstimulasi mekanisme opioid.(1)

Jenis-jenis Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)

  1. Traditional TENS (Hi TENS, Normal TENS)
  • Menggunakan frekuensi tinggi (90 – 130 Hz).
  • Pulse width relative sempit (100µs).
  • Durasi : 30 menit – mungkin merupakan waktu efektif minimal, namun dapat digunakan selama yang dibutuhkan.
  1. Acupuntur TENS (Lo TENS, AcuTENS)
  • Menggunakan frekuensi rendah (2 – 5 Hz).
  • Pulse width relative lebar (200 – 250 µs).
  • Durasi : 30 menit untuk mendapatkan efek efektif.
  1. Brief Intense TENS
  • Menggunakan frekuensi tinggi (90 – 130 Hz).
  • Menggunakan pulse width tinggi (200µs atau lebih).
  • Durasi : 15 – 30 menit.
  1. Burst Mode TENS
  • Interrupting 2 – 3 bursts / detik.
  • Frekuensi : Intensitas stimulasi harus relatif tinggi, meskipun tidak setinggi Hi TENS – lebih seperti Lo TENS.
  • Penerapan mode Burst TENS dapat secara efektif merangsang mekanisme pain gate dan opioid secara bersamaan.

Pemasangan Elektroda pada Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)

Untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal dari modalitas, penempatan elektroda harus mampu :

  • Menargetkan stimulus pada tingkat medulla spinalis.
  • Menargetkan stimulasi akar saraf yang sesuai.
  • Merangsang saraf perifer.
  • Merangsang titik motorik (diinervasi oleh tingkat akar yang sama).
  • Merangsang trigger point.
  • Merangsang dermatom, miotom, atau sklerotom yang sesuai.

Terdapat 3 jenis pemasangan elektroda yang umum digunakan, yaitu monopolar, bipolar, dan quadripolar.(4)

  • Monopolar : elektroda aktif dari sirkuit tunggal ditempatkan diatas area target, elektroda inaktif dipasangkan pada area nontreatment.
  • Bipolar : kedua elektroda dari sirkuit tungal ditempatkan diatas jaringan target.
  • Quadripolar : menggunakan empat elektroda dari dua sirkuit dan ditempatkan diatas area target.

Kontraindikasi Penggunaan TENS

  • Pasien yang tidak bisa/mau mengikuti intruksi Fisioterapis.
  • Pengaplikasian elektroda diatas dada, perut atau bokong selama kehamilan (kecuali penggunaan nyeri persalinan.
  • Pasien dengan pacemaker.
  • Pasien yang menunjukan reaksi alergi pada elektroda.
  • Pasien dengan kondisi dermatologis seperti dermatitits, eczema.
  • Pasien dengan perdarahan aktif /haemorrhage.
  • Pengaplikasian pada aspek anterior dari leher atau sinus karotis.

Precaution Penggunaan TENS

  • Jika terdapat sensasi yang tidak normal pada kulit, pindahkan penempatan elektroda untuk menghasilkan stimulasi yang efektif.
  • Elektroda tidak seharusnya dipasangkan diatas mata.
  • Pasien yang memiliki riwayat epilepsy harus dikonsultasikan dengan tenaga dokter.
  • Hindari epifisis aktif pada anak.
  • Penggunakaan elektroda pada perut selama persalinan mungkin akan mempengaruhi hasil peralatan pemantauan janin.

Baca Juga : Apa Itu Fisioterapi ?

Referensi

  1. Watson, T. and Young, S.R., 2008. Therapeutic ultrasound. Watson T. Electrotherapy Evidence-Based Practice. Edinburgh, UK: Churchill Livingstone, pp.179-200. http://www.worldcat.org/title/electrotherapy-evidence-based-practice/oclc/324995622
  2. W.W. Peng, Z.Y. Tang, F.R. Zhang, H. Li, Y.Z. Kong, G.D. Iannetti, L. Hu, Neurobiological mechanisms of TENS-induced analgesia, NeuroImage, Volume 195, 2019, Pages 396-408, ISSN 1053-8119, https://doi.org/10.1016/j.neuroimage.2019.03.077.
  3. Chimenti, R. L., Frey-Law, L. A., & Sluka, K. A. (2018). A Mechanism-Based Approach to Physical Therapist Management of Pain. Physical therapy98(5), 302–314. https://doi.org/10.1093/ptj/pzy030
  4. Bellew, J.W., Michlovitz, S.L. and Nolan Jr, T.P., 2016. Michlovitz’s modalities for therapeutic intervention. FA Davis.Page 152.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Kesehatan Terbaru

Play Video